Gaya Bahasa dalam Cerpen Angin dari Gunung Ditinjau dari Aliran Romantisme

Awaluddin Akmal (2101414065)

 I. PENDAHULUAN

Pada umumnya seseorang orang yang membaca sebuah karya sastra hanya melihat dan menilai sari segi isinya saja. Penggunaan gaya bahasa dan cara penyampaian sebuah karya sastra seperti cerpen tidak diperhatikan. Gaya bahasa dianggap tidak begitu penting dan banyak dari mereka tidak mengetahui mengenai gaya bahasa apa yang digunakan dalam sebuah karya sastra.

Gaya bahasa merupakan unsur kedua dalam sebuah prosa. Gaya bahasa yang biasanya dianalisis dalam prosa adalah majas merupakan salah satu unsur yang memperkuat di dalam nuansa cerita. Melalui gaya bahasa, pembaca akan merasakan cerita tersebut. Oleh karena itu makalah ini akan membahas mengenai gaya bahasa dan kaitannya dengan aliran romantisme.

Cerpen Angin dari Gunung dipilih karena di dalamnya digunakan gaya bahasa yang dapat dianalisis sebagai bagian dari wujud romantisme baik secara utuh maupun secara terpisah. Cerpen tersebut diambil dari kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami dari A.A. Navis. Di dalam membuat cerpen, A. A.Navis menggunakan cara tersendiri termasuk dalam cerpen ini. A. A. Navis adalah alah satu pengarang yang berasal dari Padangpanjang, Sumatera Barat. Ia merupakan sastrawan yang aktif pada tahun 60-an. Ia banyak menulis karya sastra dan salah satunya yang terkenal adalah Robohnya Surau Kami (kumpulan cerpen).

Masalah yang diangkat oleh penulis adalah bagaimana pengaruh gaya bahasa dari karya sastra kepada pembaca; bagaimana penggunaan gaya bahasa dalam cerpen Angin dari Gunung sebagai wujud romantisme. Makalah ini akan menjelaskan mengenai pengaruh gaya bahasa dalam dari karya sastra kepada pembaca; menjelaskan gaya bahasa yang terdapat dalam cerpen Angin dari Gunung sebagai wujud romantisme.

II. PEMBAHASAN

2.1. Pengaruh Gaya Bahasa dari Karya Sastra kepada Pembaca dalam Sudut Pandang Romantisme

Pembaca karya sastra yang masih awam biasanya melihat karya sastra dari isinya. Tidak banyak dari mereka mengetahui atau memperhatikan unsur kedua yaitu gaya bahasa. Padahal gaya bahasalah yang akan membawa mereka ke dalam karya yang dibaca. Pengaruh gaya bahasa kepada pembaca yaitu, gaya bahasa menambah dan menguatkan unsur estetis dari sebuah karya sastra; gaya bahasa menimbulkan efek dan kesan lain dari sebuah karya sastra. Meskipun dalam sebuah prosa gaya bahasa merupakan unsur sekunder.

Sedangkan kaitan gaya bahasa dengan romantisme adalah bagaimana gaya bahasa itu mendukung dalam mengungkapkan romantisme. Gaya bahasa yang digunakan dalam romantisme biasanya mendayu-dayu, dan membawa ketenangan, keindahan dari alam atau hal lain. Gaya bahasa yang romantisme itu juga biasanya memilih diksi yang bersifat unik dan akan membuai pembaca.

2.2. Analisis Gaya Bahasa Cerpen Angin dari Gunung

Dalam analisis karya sastra khususnya prosa, gaya bahasa dapat dikaji secara terperinci ataupun secara utuh karya sastra itu. Makalah ini akan menganalisis gaya bahasa dari cerpen Angin dari Gunung secara umum dan keseluruhan sebagai bentuk kaitan dengan aliran romantisme. Oleh karena itu maka akan dipaparkan secara umum dari bagian-bagian cerpen dahulu, kemudian akan simpulkan secara keseluruhan.

Analisis yang pertama secara bagian-bagian dari cerpen. Pada kalimat pertama cerpen Angin dari Gunung yaitu “sejauh mataku memandang, sejauh aku memikir, tak sebuah jua pun mengada”, dari bagian ini sudah menunjukkan gaya bahasa yang romantik. Penulis mengulang kata “sejauh” sebagai bentuk penguatan.

Pada bagian “Lalang yang ditiup angin bergelombang menuju kami. Lalu angin menerpa mukaku lagi. Dan aku merasa ketiadaanku pula. Angin pergi.” Dengan menggunakan gaya bahasa yang dipilih pengarang menggambarkan keadaan apa yang dirasakannya dengan indah. Selain itu di dalamnya terdapat ungkapan personifikasi angin yang dapat menerpa dan pergi.

Bagian lain dari cerpen ini juga menunjukkan gaya bahasa perbandingan. Misalnya pada bagian “Melihat itu, aku mau tersedu. Tersedu seperti ketika pusara Ibu mau ditimbuni.” Pengarang menggunakan perbandingan, keadaan tersedu saat tokoh merasa tersedu dan memperkuatkannya dengan membandingkan ketika kubur ibu tokoh hendak dikubur. Gaya bahasa ini digunakan pengarang sebagai pandangan lain agar pembaca dapat memahami maksud dari pernyataan pertama.

Terdapat pula gaya bahasa lain, misalnya dalam bagian “tanyanya dengan suara yang lain sekali bunyinya. Begitu pahit.” Dalam kalimat ini gaya bahasa yaitu perubahan indera yang sebenarnya bunyi adalah indera pendengaran namun diterima dan dirasakan dengan indera pengecap sebagai sesuatu yang pahit. Gaya bahas ini disebut dengan gaya bahasa sinestesia.

“Aku tak merasa terpaan angin dari gunung itu lagi. Yang kurasakan terpaan ucapannya pada mukaku, karena terasa sebagai umpatan yang pahit tapi dicelup dengan tengguli.” Bagian ini terdapat beberapa gaya bahasa. Pertama adalah “yang kurasakan terpaan ucapannya pada mukaku”, kalimat ini digunakan pengarang untuk menggambarkan bahwa tokoh aku merasakan ucapan itu menerpa atau mengubah keadaan muka dan perasaannya. Kedua, “terasa sebagai umpatan yang pahit tapi dicelup dengan tengguli.” Bagian ini menggunakan gaya bahasa perumpamaan. Sebuah perkataan yang tidak enak namun dituturkan dengan cara dan keadaan yang sebelumnya menyenangkan. Hal itu diumpamakan sebuah umpatan yang pahit namun dicelup tengguli. Tengguli adalah air tebu yang sudah dimasak dan rasanya sangat manis. Gaya bahasa ini mewakili bentuk perbandingan-perumpamaan.

“Sedang mata pertamamu melihat aku tadi, kau seolah melihat pengemis yang dijijiki.” Kalimat ini menunjukkan adanya gaya bahasa perumpamaan. Ketika tokoh aku melihat tokoh dia diibaratkan cara melihatnya seperti ketika melihat pengemis yang jijik. Seolah tokoh aku tidak mengenal tokoh dia dan tidak ingin melihatnya.

“Tapi sebelum dia hilang di balik belukar yang bergoyang ria ditiup angin dari gunung itu,” gaya bahasa personifikasi terdapat pada bagian ini. Personifikasi belukar yang bergoyang karena tiupan angin digambarkan supaya pembaca mengimajinasikannya. Selain itu untuk menambah Susan ataupun perasaan pembaca ketika membacanya. Karena akan terasa berbeda ketika dituliskan dengan “di balik belukar yang bergerak-gerak ke kanan ke kiri” hal itu akan terasa tidak berkesan apapun.

Pada bagian paragraf terakhir, pengarang menguatkan gaya bahasanya. “Tapi dia tidak menoleh lagi. Hilang di balik belukar itu. Dan belukar itu bertambah ria menari ditiup angin dari gunung. Angin dari gunung yang meniup belukar hingga bergoyang dan menari ria itu, angin itu juga yang meniup aku, meniup Nun, dan meniup gadis kecil itu.”

Gaya bahasa penegasan mendominasi bagian terakhir ini sebagai penutup cerita. Penegasan yang pertama, “ … belukar itu. Dan belukar itu…,” kemudian, “… angin dari gunung. Angin dari gunung yang …,” pada bagian ini menunjukkan gaya bahasa repetisi jenis tautotes/tautologi, yaitu menerangkan bahwa pada tiap bagian itu memiliki hubungan yang terkait dan di dalam sebuah konstruksi. Penegasan yang kedua yaitu pada kalimat terakhir “angin itu juga yang meniup Aku, meniup Nun, dan meniup gadis kecil itu.” Pengarang menggunakan gaya bahasa repetisi jenis anafora yaitu pengulangan kata atau kelompok kata pertama pada bagian berikutnya. Kata ‘meniup’ diulang-ulang untuk menegaskan bahwa baik Aku, Nun, dan gadis kecil itu sama-sama ditiup angin -maksudnya pergi, meninggalkan tempat itu.

Paparan sebelumnya telah dijelaskan mengenai bagian-bagian dalam cerpen yang menunjukkan gaya bahasa di dalam cerpen. Namun dalam analisis sebuah prosa jika dilakukan hanya untuk mengetahui bagian-bagian kecil maka kurang sesuai. Karena prosa memang memiliki gaya, tetapi gaya bahasa dalam prosa lebih sesuai jika dianalisis secara umum.

Ratna (2013:60) dalam bukunya menyebutkan bahwa memang di dalam prosa terdapat gaya bahasa namun gaya tersebut berbeda dengan gaya bahasa yang terdapat dalam puisi. Memang dalam menjalin plot sebuah cerita melibatkan gaya tetapi pengertian gaya dipahami sebagai cara-cara yang bersifat umum, bukan gaya bahasa yang dipahami sebagaimana di dalam puisi.

Cerpen Angin dari Gunung adalah salah satu contoh karya periode 60-an. Telah diketahui bahwa pada masa ini karya sastra yang berkembang masih terpengaruhi oleh angkatan sebelumnya yaitu Angkatan 45, dan Angkatan 45 dipengaruhi oleh aliran romantisme yang berkembang di Eropa. Sehingga berdasarkan contoh-contoh bagian yang telah dipaparkan sebelumnya dapat dipahami kalau cerpen ini memiliki gaya bahwa yang romantis.

Gaya penulisan cerpen ini juga memiliki pengaruh dari angkatan sebelumnya Pujangga Baru. Tokoh-tokoh dalam cerpen adalah manifestasi tokoh perjuangan dan manifestasi kebudayaan barat. Ciri ini berdasarkan apa yang disebutkan Ratna (2013:348-349) bahwa Pujangga Baru didominasi oleh ciri-ciri ambivalensi psikologis. Ciri tersebut melibatkan dua faktor, yaitu: a) dari segi genesis, tokoh-tokoh cerita merupakan manifestasi tokoh-tokoh pergerakan nasional sekaligus hasil positif pendidikan barat, b) dari segi resepsi, tokoh-tokoh cerita merupakan manifestasi kebudayaan barat sekaligus pertahanan terhadap kebudayaan nasional. Tokoh dalam cerpen Angin dari Gunung memiliki hubungan dari Barat atau Eropa. Tokoh Aku memiliki pengetahuan terhadap Eropa namun ia masih bersifat ketimuran. Sedangkan tokoh Nun merupakan seorang prajurit wanita yang kehilangan tangannya karena peperangan. Setelah tidak menjadi prajurit ia merawat neneknya sebagai wujud rasa sayang pada orang tua. Hal tersebut menunjukkan kebudayaan timur yang masih ia miliki. Jadi, dalam cerpen Angin dari Gunung bisa dikatakan memiliki gaya bahasanya sendiri yaitu gaya bahasa Romantisme, dan dapat dikatakan mewakili wujud aliran romantisme itu dengan gayanya sendiri.

III. SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan paparan yang telah disebutkan, dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa memiliki pengaruh terhadap pembaca, yaitu : gaya bahasa menambah dan menguatkan unsur estetis dari sebuah karya sastra; gaya bahasa menimbulkan efek dan kesan lain dari sebuah karya sastra. Kemudian gaya bahasa merupakan unsur sekunder dalam prosa.

Selain itu berdasarkan contoh-contoh yang paparkan dari bagian cerpen Angin dari Gunung menunjukkan bahwa cerpen tersebut menunjukkan gaya bahasa romantisme. Gaya bahasa romantisme cerpen tersebut dipengaruhi oleh angkatan sebelumnya yaitu Angkatan 45 dan Pujangga Baru.

Saran penulis kepada pembaca adalah dalam menganalisis gaya bahasa sebuah karya sastra khususnya prosa hendaknya untuk menganalisis secara umum. Tidak hanya terbatas dalam jumlah majas di dalamnya atau majas jenis apa di dalamnya, tetapi lebih bagaimana karya itu mencerminkan gaya bahasa apa. Selain itu dalam mengapresiasi karya sastra untuk juga memperhatikan mengenai gaya bahasa yang ditampilkan di dalamnya.

DAFTAR PUSTAKA

Buku Teks

Ratna, Nyoman Kutha. 2013. Stilistika: Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Karya Sastra

Navis, Ali Akbar. 2010 (1986). Robohnya Surau Kami: Angin dari Gunung. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Satu pemikiran pada “Gaya Bahasa dalam Cerpen Angin dari Gunung Ditinjau dari Aliran Romantisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s