Sampai Dari Mimpi

            Di tengah hari yang terik duduklah seorang pemuda di taman satu universitas negeri di Semarang. Pemuda itu bermata cokelat gelap tajam, berkulit tidak terang tidak gelap, tidak tinggi tetapi rata-rata, rambutnya sedikit bergelombang. Ia asyik dengan telepon pintarnya tanpa ia sadari seorang ibu-ibu datang dan menyapanya, “Dik, kamu temannya Dinda putri saya?”

“Iya Bu, maaf perkenalkan saya Ainul.” Seketika ia menjawab dengan gugup.

“Oh, Dik Dinda sudah menunggumu dari tadi, kok masih di sini?, mari ikut!” Ainul dan Bu Hafa langsung menuju lokasi Dinda. Ainul yang masih bingung bagaimana Ibu Hafa dapat mengenalinya.

            Hari ini adalah hari wisuda Dinda. Ainul sebenarnya tidak tahu betul mengapa ia diundang untuk datang di hari yang cukup penting itu. Padahal ia sendiri juga masih harus mengurus revisi skripsinya setelah dinyatakan lulus. Ia berpikir jika ia bukanlah orang yang penting sehingga untuk apa diundang Dinda. Memang benar saat sekolah menengah Ainul menyukai Dinda. Tapi apakah karena itu. Ia masih saja memaksa otaknya berpikir.

            Tanpa Ainul sadari ia sudah berada di lokasi. Wisuda itu sebenarnya sudah akan selesai dan Dinda dengan senyumnya yang manis dibalut gaun yang menambah pesona keanggunan dari dirinya. Dinda adalah gadis yang tinggi, putih, dan berhidung mancung. Ia tampak lebih cantik dibanding saat terakhir bertemu dengan Ainul. Tetapi pandangan dan perasaan Ainul terganggu dengan lelaki berdiri di samping Dinda. Perasaan yang awalnya cerah mengenang masa lalu yang membuat tersenyum seketika berubah.

            “Hai nul! Dari mana saja kamu, sudah ditunggu lama tahu.” Sapa Dinda dengan keras hingga membuat Ainul terkejut.

            “Ahh itu….” Ainul menjawab dengan sedikit ragu.

            Dengan cemberut Dinda menimpali, “Ish, dari dulu kamu selalu banyak alasan. Sudahlah aku tahu dirimu. Kamu itu gak pernah berani mencariku. Setidaknya kamu apa lah, usaha dong Nul! hahaha” Dinda menggoda Ainul.

            Perkataan Dinda membuat pikiran Ainul terganggu kembali. Sebenarnya apa maksud ia berkata seperti itu, tujuannya apa. Lebih lagi siapa laki-laki yang bersamanya. Teman-teman Dinda masih bersamanya sehingga ia tak mungkin membahas ini. Namun dalam kegelisahan Ainul, Bu Hafa berkata kepadanya, “Dik, mari ke tempat yang lebih tenang. Ibu mau bicara padamu.”

            “Apa ada hal yang penting Bu?” tanya Ainul.

            “Ah tidak, Ibu cuma ingin bilang kalau kamu tidak sibuk, bisalah habis ini kita pulang ke Kudus bersama. Nanti kita makan bersama dan mengobrol.”

            “Baik Bu, tapi nanti saya balik ke tempat saya dulu beres-beres kamar.”

            “Ya sudah nanti ditunggu sebelum tugu muda.”

            “Baik, Bu”

            Ainul pun izin pulang dan langsung menuju ke tempatnya. Ia sebenarnya punya kendaraan sendiri tapi ia meminta teman untuk mengantarnya dan membawa motor miliknya untuk ke Kudus. Ia akan pulang dengan mobil keluarga Dinda. Ternyata dalam mobil itu tidak ada Dinda rupanya ia di mobil yang satunya.

            Sampailah rombongan di rumah. Mobil yang Ainul tumpangi sampai lebih dulu. Ia diajak masuk ke dalam dan duduk di sofa ruang tamu. Tak lama kemudian rombongan selanjutnya datang, Dinda pun masuk bersama lelaki yang tadi di tempat wisuda, tapi lelaki itu langsung masuk dan Dinda berkata pada Ainul.

            “Wah sudah sampai duluan Nul, tumben cepet.”

            “Iyaa….”

            “Nadanya gak usah gitu, biasa aja. Hahaha.” Dinda membalas Ainul. Dinda pun langsung duduk.

“Gimana Nul, kapan wisuda sih? Lama amat. Skripsi udah kan?”

            “Nanyanya satu-satu Din, kebanyakan bingung jawab yang mana.”

            “Iya, iya.. katanya nanti sarjana Bahasa Indonesia, masa jawab pertanyaan gitu gak bisa sih? Haha”

        “Alah, itu sih kamu kali Din, mentang-mentang udah sarjana komunikasi terus ngasih pertanyaan banyak dalam satu waktu.”

            “hahahaha” Dinda tertawa.

            “Eh Din, aku mau nanya.”

           “Nanya apa? Jangan soal tadi aku urutan maju ke berapa ya, yang pasti aku tadi di barisan paling depan..hahah”

            “Ish, bukan. Itu tadi siapa yang sama kamu?”

            “Siapa?”

            “Itu, laki-laki tadi yang masuk”

            “hahaha. Kamu cemburu? Masih suka kayak gitu? Yaelah Nul masa kamu lupa sama wajahnya. Itu adik aku kan?…”

            “Ya ampun, beda Din, dulu aku liat gak gitu.” Dalam hati Ainul pun sedikit lega.

            “Alah kamu.”

           Mereka pun mengobrol tentang masa lalu dan pengalaman Dinda ketika kuliah hingga wisuda seolah-olah mereka bertransformasi muda lagi. Tiba-tiba saja Bu Hafa datang dan meminta mereka masuk ke ruang makan. Hidangan yang disiapkan telah menunggu. Dan mereka pun beranjak dari asyiknya berdua.

            Di ruang makan Ainul merasa sangat gugup. Tangannya gemetaran seolah ia menghadapi sebuah ujian berat. Namun berkali-kali Ainul tampak gugup Dinda langsung melihatnya seolah memberikan kode untuk tenang maka redalah sedikit kegugupannya.

            “Mari Dik, silakan!” Bu Hafa mempersilakan Ainul.

            “Iya Bu..” Jawab Ainul.

            Ainul hendak memegang centong namun secepat kilat disambar Dinda.

“Sudah, aku saja yang ambilkan, kamu kan orangnya malu-maluin. Eh maksudnya pemalu..” Dinda berkata sambil tersenyum pada Ainul.

            Sampai detik itu Ainul merasakan hal aneh dari sikap Dinda. Seolah ada yang berbeda sekali dari yang biasanya lakukan padanya. Ainul tetap memastikan kalau dirinya tetap tenang di hadapan keluarga Dinda.

            “Nih, Pak Guru..hehe” Dinda memberikan nasi di atas piring Ainul.

            Mereka semua pun menikmati masakan yang dihidangkan. Bagi Ainul ini kali pertamanya makan bersama keluarga Dinda. Meskipun ia sendiri pernah makan berdua dengan Dinda. Sehabis makan terjadilah hal yang tak terpikirkan dan diduga Ainul.

            “Jadi, Kapan keluarga Dik Ainul datang ke sini?”

            “Ah? Maaf, apa yang Ibu maksud?” Ainul terkejut mendengar kata-kata Bu Hafa.

            “Maksudnya kapan Kakak ngelamar Kak Dinda?” saut Adik laki-laki Dinda.

            Tambah terkejutlah Ainul, seketika ia langsung memalingkan pandangan ke arah Dinda. Ia lihat Dinda hanya tersenyum namun lebih terlihat menahan tawanya. Ainul paham bahwa ini pasti sudah diketahui Dinda, namun ia tidak membicarakan kepadanya. Memang Ainul memiliki perasaan pada Dinda namun perasaan itu hanyalah kekaguman belaka. Perasaan Dinda pun tidak diketahui betul olehnya.

            “Kenapa kamu gak bilang dulu Din?” kata Ainul pada Dinda dengan nada sedikti kesal.

            “Nah jadi kapan kamu ngelamar aku? Haha.” Balas Dinda.

            “Jadi, gimana Dik Ainul? Kalau memang sudah tidak ada halangan sebaiknya jangan ditunda-tunda. Dinda sudah bilang kalau Dik Ainul sudah punya niat, tapi masih belum sempat mengatakan karena menunggu Dinda selesai kuliah. Sekarang Dinda sudah wisuda.”

            “Emm.. iya Bu, nanti setelah sampai di rumah saya utarakan perihal ini pada orang tua dan keluarga. Agar bisa secepatnya ini terlaksana” Kata-kata Ainul meluncur begitu saja seperti tanpa kesadaran setelah terhipnotis dengan ucapan semua yang ada di sana.

            “Nah gitu dong… Nul… jangan lama-lama.” Dinda tersenyum dan mendukung kata-kata Ainul.

            Begitulah apa yang terjadi. Selang satu bulan dari hari itu Ainul dan keluarganya datang. Acara lamaran itupun berlangsung lancar dan rencananya tahun depan pekan pertama bulan Dzulhijjah akan dilaksanakan pernikahan mereka. Cinta yang tak pernah disangaka Ainul, gadis yang selalu ia puja dan kagumi itu akan menjadi pasangan dan teman hidupnya selamanya.

6 pemikiran pada “SAMPAI DARI MIMPI [cerpen]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s