R, Citaku dan Cintaku

            Di bawah sinar rembulan seorang anak laki-laki melangkah dengan dua kakinya menyusuri jalanan menuju tempat peraduannya. Namun tampak dari raut wajah itu menjelaskan kalau ia sedang memikirkan begitu banyak hal. Sorot matanya yang tajam memperhatikan pucuk kakinya. Sedang jemarinya menggenggam erat dan sesekali ia memegang pipi dan memutar-mutar lidahnya. Ia tampak sibuk sendiri dengan kegiatannya.

            Nama anak itu adalah Ibnu. Ia seorang mahasiswa sebuah kampus negeri kota Semarang. Ia tak jauh beda dengan mahasiswa lainnya, kuliah ia juga kuliah. Hal yang mungkin beda, Ibnu itu tipe orang yang tak peduli dengan hal yang baginya tak penting. Ya, Ibnu, mahasiswa semester 3 jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Wajarnya di sana ia dituntut agar mampu berbahasa dan juga bersastra dengan baik bahkan sangat baik. Baginya hal itu terasa bagai memanggul beban berat sebab ada sebuah kendala yang mungkin nanti menjadikan kemampuan yang ia kuasai tidak sepenuhnya.

            Suatu malam dalam kegiatan kuliah, ia diminta untuk membaca sebuah puisi. Ia membacakan puisi itu dengan kaki dan tangan gemetar. Tapi terdengar suaranya dengan nada yang datar. Tidak bagus juga tidak buruk. Namun pada hari itu juga ia tersadar hal yang benar tetapi agak sulit diterima. Ibnu adalah anak yang cadel –tidak dapat melafalkan r dengan benar. Kala itu ia membaca sebuah puisi tersurat banyak sekali huruf r. Tak ayal ia mendapatkan komentar dari dosen agar ia lebih selektif dalam penentuan puisi yang dibaca. Desennya juga memberi solusi supaya ia dapat melatih sedikit demi sedikit agar dapat melafalkan r dengan benar.

            Sejak ia kecil ketika orang memintanya melafalkan r. Ia terus saja mengikuti orang yang melafalkan itu. Dengan berulang-ulang ia tetap saja mengatakan dengan tidak jelas dan malahan terdengar ‘ellll’. Pernah ketika juga ia diminta melafalkan Uler mlungker mlungker ning dhuwur pager. Itu adalah salah satu dari beberapa kata rumit dalam bahasa Jawa yang selalu teman-teman atau saudaranya minta Ibnu melafalkan. Berapa kali ia mencoba tetap saja. Malah semakin membuat orang lain yang mendengarnya tertawa. Beruntunglah namanya tidak mengandung huruf r, selamatlah Ibnu.

            Melihat apa yang terjadi pada anaknya. Orang tua Ibnu hanya dapat memberikan semangat kepadanya. Mereka tidak berpikir hal lain yang mungkin terjadi atau menghalanginya ketika Ibnu besar nanti. Bahkan saran-saran ekstrem pun muncul. Misalnya ada saudaranya yang menyarankan agar Ibnu untuk makan sambal terasi. Katanya hal itu akan membuatnya pedas karena itu nanti lidahnya dapat bergetar. Pernah juga lebih parah. Ia sempat di bawa ritual oleh neneknya agar mudah bicara. Ritual itu dilakukan neneknya dengan menabrakkan kepala Ibnu ke pohon pisang. Lalu lidah Ibnu diminta dijulurkan. Setelah itu neneknya akan mengeroknya dengan cincin.

            Bahkan kini saat dewasa ada kejadian yang sulit diterima baginya. Ia pernah menyukai beberapa wanita. Dan sialnya dari wanita yang ia suka ternyata memiliki huruf r di namanya. Dari wanita itu ada yang namanya Rini, Gettar, Arina. Saat ia memanggil salah satunya misal Rini pun tak lepas dari ejekan karena yang terdengar adalah lini.

            Masalah masa lalu itu mungkin berdampak tak langsung padanya saat di kuliah kini. Ia juga menyukai seorang wanita yang memiliki huruf r di namanya, sebut saja Catur. Ibnu merasa sangat depresi sekali hingga ia tak berani melafalkannya. Bahkan hanya untuk menyapa wanita itu. lidahnya seperti disemen. Mulutnya terbungkam. Karena itu ia membuat nama lain saat berhubungan lewat media tulis ataupun telepon. Ia sempat memanggilnya Caca, Ning, Cahya, atau yang terakhir kali Ayy. Tapi sudahlah, semua menjadi kelam karena kinipun ia merasakan deritanya karena tidak mampu menyapa nama itu saat mereka berhadapan.

            Setelah mendapat pesan dari dosennya dan menyelami kejadian pada masa lalu ia bertekad untuk belajar melafalkan r. Ia mencari tips dan cara lewat internet. Ia menemukan metode-metode yang pernah dilakukan orang yang dulu cadel dan kini sembuh. Ada beberapa teori yang ia temukan. Pertama teori mulai titik nol. Teori ini mengharuskan seorang cadel untuk kembali melatih pelafalan fonetik seperti anak yang baru belajar berbicara. Pada anak belajar bicara bunyi r biasanya dilafalkan dengan n di awal dan ng di akhir. Ibnu mencoba metode itu ia melatih dengan melafalkan kata yang mengandung huruf r. Saat kuliah, mandi, mau tidur. Dua minggu berlalu ia merasakan mulai ada getaran getaran di lidahnya. Ia mulai percaya pada metode itu.

            Setelah beberapa minggu dan ia mulai percaya diri untuk melafalkan r. Ia panggil temannya.

            “Eh, coba denger.. perrrcaya. Udah bisa belum?” tanya Ibnu.

            “Belum, belum jelas.” Jawab temannya.

            “Ooh gitu, masak? Aku rasa sudah.” Ibnu meyakinkan.

            Beberapa hari setelahnya Ibnu pun sedikit mulai bosan. Ketika ia sudah berlatih berulang-ulang dan tetap saja tidak bisa melafalkan dengan benar. Ia pun merasa bahwa dirinya memang tidak pantas untuk berbicara. Ia merasa bahwa pasti sudah tidak ada cara yang bisa ia lakukan. Ia menyadari bahwa kelainan itu dari fisiologis yang sudah cukup terlambat untuk mengubahnya. Semakin hari ia makin memikirkan hal itu. Lebih ia terpikirkan akan seorang wanita yang berhuruf r di namanya. Karena rasa kesalnya setiap kali sendiri di kamar ia mengucapkan nama itu sambil melihat dirinya depan kaca. Makin lama ia memandang, semakin paham bahwa memang ia tidaklah cukup berani untuk menyapa wanita itu.

            Ketika semua jalan untuk menuju r dan cinta r terasa makin tak jelas. Ia hari-hari berikutnya Ibnu lalui dengan wajah murung. Ia tak banyak bersuara. Saat orang lain berbicara padanya ia hanya memandang kosong dan tak banyak kata keluar dari mulut mungkin hanya ya dan tidak.

            Suatu malam ia membuka laptop miliknya. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dan terbuka.

            “Eh, mau ikut lomba nulis gak?” tanya teman kosnya.

            “Apa?” balas Ibnu.

            “Bentar, nih lomba nulis cerpen hadiahnya lumayan.” Jawab teman kosnya.

            “Ah, tapi deadlinenya tinggal beberapa hari lagi.”

            “Ya sudah, kalau gitu kamu ajari aku nulis saja. Aku pengen nulis lumayan.” Teman kos Ibnu tahu bahwa Ibnu anak bahasa. Jadi ia minta bantuannya.

            “Tapi aku masih belum ahli.”

            “Gak apa-apa.”

            “Ya sudah kalau maksa.” Ibnu berpikir dalam dalam lalu ia tersadar dengan masalahnya. Ia memang harus menguasai kemampuan berbahasa. Tapi kesulitan melafalkan r dan berbicara bukan sebuah halangan untuk berkarya. Dan saat itu ia mulai menerima dirinya dan meyakinkan bahwa tanpa bicara -dengan menulis, masih bisa membawanya tetap menuju cita dan cintanya yaitu r.

9 pemikiran pada “R, Citaku dan Cintaku [cerpen]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s